BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Rabu, 11 Agustus 2010

Tak Mungkin Lagi :)

Desiran ombak, kembali menentramkan hati seorang lelaki yang mungkin sudah beberapa kali mengunjungi pantai. Dari raut mukanya, terlihat ia sedang menikmati suasana pantai sore itu. Di tempat ia duduk sekarang, menyimpan berbagai kenangan manisnya bersama seseorang yang pernah dimilikinya 1 tahun yang lalu.
“Lyssa, kapan gue bakal ketemu loe lagi. Maafin gue, Sa.” Tangan pemuda itu tampak meremas pasir putih di sekitarnya. Tampak sebuah rasa penyesalan dari cara ia berkata.
*
“Yes, masuk.” Teriak Ica di akhir permainannya.
“Tapi, tetep aja kamu kalah.” Kata Rafi yang tak lain adalah kekasih dari Ica.
“Biarin, besok tanding lagi kan.? Lagi semangat-semangatnya nih, Raf.” Ica memainkan bola basket yang berada di tangannya.
Rafi menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Ehm, aku besok ada latihan basket sama temen-temen. Gimana kalo kamu maen ama sepupuku. Nanti malem kayaknya dia dateng ke sini.”
“Yah, aku kan pengennya maen sama kamu.”
“Sama aja kok. Gini aja, kamu maen ama dia anggep latihan aja deh, nanti kalo ketemu aku, cara bermain kamu harus lebih meningkat dari biasanya.” Kata Rafi sambil menyeka keringatnya.
Ica mendengus sebal, dan tersenyum paksa. “Iya deh.”
Rafi yang melihat Ica ngambek langsung menyentuh puncak kepala Ica yang lebih rendah darinya. “Jangan ngambek gitu dong sayang, nanti aku kepikiran kamu terus selama latian. Kamu tau kan sebentar lagi aku bakal ada turnamen sama SMA Achilles?”
Terbentuk sebuah cengiran di wajah Ica. “Hehe, nggak papa kok, Raf. Aku juga nggak ngambek beneran. Aku gak maksa kamu kok. Ini kan udah jadi perjanjian di awal kita jadian dulu. Kita nggak bakal ngeberatin semuanya diurusan cinta, sekolah tetep nomor satu. Kan ada slogan ‘Kejarlah cita-cita sebelum cinta’.” Ica tertawa kecil.
Rafi tersenyum simpul. “Makasih buat pengertiannya ya. Beruntung banget, aku bisa punya cewek yang pengertian kaya kamu. Pasti banyak banget cowok yang pengen punya cewek kaya kamu.”
Air muka Ica berubah setelah mendengar kata-kata Rafi. “Nggak semuanya, Raf. Buktinya…” Ica menghela nafas panjang.
Rafi menaruh telunjuknya pada bibir Ica. “Ssst.. Jangan di bahas lagi ya. Aku nggak mau liat kamu sedih hanya gara-gara inget masalah itu.” Ica tersenyum dan mengangguk kecil. Dia merasa beruntung, karena memiliki seorang kekasih yang begitu mengerti dirinya.
*
Sebuah mobil Maybach 62, memasuki rumah mewah bercat putih di salah satu kawasan perumahan elite di Jakarta. Tampak seorang lelaki muda sedang keluar dari mobil dan di sambut hangat oleh tuan rumah.
“Reno. Gimana kabar orang tua kamu di Bandung? Tante kangen nih.” Sang Nyonya rumah menghampiri lelaki yang bernama Reno itu dan mempersilahkannya masuk.
“Ehm, baik kok, Tan. Rafi mana? Ada keperluan sedikit nih Tan sama Rafi.” Kata Reno sambil melirik ke arah tangga.
“Ada tuh di kamarnya. Soal kamar kamu di mana, nanti kamu tanya Rafi aja ya.” Renopun mengangguk kecil. Reno segera berjalan menyusuri tangga dan menuju ke kamar Rafi.
“Reno, besok loe nggak ada acara kan.” Kata Rafi tiba-tiba ketika ia melihat Reno membuka pintu kamarnya. Reno menggeleng.
“Bagus. Loe besok temenin cewek gue maen ya. Gue lagi gak bisa nemenin dia maen, soalnya gue ada latian basket ama temen-temen.”
“Hmm, Ok deh. Besok gue temenin. Kan kesempatan tuh.” Kata Reno dengan nada yang dibuat-buat.
“Maksud loe.? Awas kalo cewek gue loe embat. Gue pites juga loe.”
Reno tertawa lepas. “Hahaha, bercanda bro. Selain gue mau liburan di sini. Gue juga mau cari peri kecil gue yang gue sia-siain 1 tahun yang lalu.” Air muka Reno tampak berubah.
“Peri kecil? Kok loe nggak pernah cerita ke gue. Namanya?”
“Lyssa.”
*
Gadis itu tersenyum ketika melihat origami berwarna putih yang tergeletak di meja belajarnya. Sesaat dia mengingat masa lalunya. 6 bulan yang lalu, sahabatnya yang kini telah menjadi kekasihnya memberi sebuah origami kecil berbentuk burung bangau. Walaupun kini origami itu terlihat kusam, tapi tidak untuk rasa di hatinya. Rasa cinta itu takkan pernah kusam, karena kekasihnya itu telah membuat dirinya menjadi seekor angsa, setelah setengah tahun berdiam diri menjadi itik buruk rupa.
Tanpa dia sadari, ia mengingat di saat dia menjadi itik buruk rupa yang selalu diselimuti kegelapan. Sedih, karena di tinggal oleh seseorang yang mungkin sangat berarti di hatinya dulu. Dulu.? Ya, dulu, karena saat ini bukan seseorang yang hilang itu yang sangat berarti. Seseorang yang mengubahnya menjadi seekor angsalah yang sangat berarti di hatinya, untuk sekarang.
*
“Sepi! Mana sodaranya Rafi belum dateng. Nggak on time banget jadi orang. Udah 1 jam gue nungguin dia.” Ica menggerutu kesal.
Ica mencoba mengeshoot bola untuk mengatasi kejenuhan. Sesaat dia mencoba melakukan lay up yang telah diajarkan Rafi beberapa minggu yang lalu.
“Ehmm, Ica bukan.?” Panggil seseorang tiba-tiba, dari arah belakang Ica. Ica memutar bola matanya dan menggerutu. ‘Akhirnya dateng juga loe.’ Gumam Ica dalam hati dan memutarbalikkan badannya ke arah lelaki –yang memanggilnya tadi-.
“Lyssa / Reno.!” Seru mereka bersamaan. Air muka kesal tercipta dari muka Ica. Reno melihat Ica –Lyssa peri kecilnya- dengan tatapan sedu.
“Jadi loe..” Ica mengarahkan jari telunjuknya ke arah Reno. Reno refleks memeluk Ica, peri kecilnya telah kembali saat ini. Ia tak memikirkan status peri kecilnya yang memiliki hubungan dengan saudaranya sendiri.
Ica terlihat sedang melepaskan diri dari pelukan Reno. “Lepasin.!!” Reno semakin mempererat pelukannya.
“Gue nggak akan nglepasin loe, Lyssa. Gue sayang banget ama loe. Maafin gue, Lyssa..!!” nada bicara Reno semakin tinggi.
“Lepasin.!!” Reno melepaskan pelukkannya. “Kemana aja loe.! Kenapa loe baru minta maaf sekarang.! Loe cuman manfaatin gue kan.! Setelah loe jadi bintang yang bersinar and loe udah milikin semuanya, loe pergi ninggalin gue. Sedikitpun loe nggak pernah ngertiin posisi gue waktu itu.!!” Emosi Ica semakin memuncak.
“Lyssa, dengerin gue dulu. Gue tahu, waktu itu gue salah. Gue nyesel sekarang.! Gue udah buang sifat gue itu. Hanya demi loe Lyssa!! Demi Loe!!” Reno menatap Ica dalam.
“Terserah.! Mau loe berubah karena gue, mau loe berubah karena siapa. Itu bukan urusan gue and gue nggak mau tahu itu.!!” Ica melewati Reno dan meninggalkan Reno sendiri di tengah lapangan. Reno membanting bola basket yang berada ditangannya dan berteriak sekencang mungkin.
*
Rafi terus memandangi monitor hand-phonenya. Sesaat dia mengetikkan beberapa kata dan menekan tombol sent pada keypad hand-phone. Tak ada satu balasan pesanpun dari Ica. Rafi memilih jalan lain. Ia mencoba menelpon Ica. Pintar sekali. Telepon itu juga di reject oleh Ica.
“Loe kenapa sih, Ca? Apa loe marah ama gue gara-gara nggak gue temenin.?” Kata Rafi lirih. “Reno!!” panggil Rafi saat dia melihat Reno berjalan dari arah teras.
Reno menatap Rafi dengan tatapan penuh kebencian. “Kenapa loe?” tanya Rafi ketika menyadari tatapan aneh dari saudaranya itu.
Reno tak menghiraukan pertanyaan dari Rafi. Ia segera melangkahkan kaki menuju kamarnya.
‘Semua orang pada aneh hari ini.’ Rafi kembali menatap layar handphonenya.
*
Kesal. Rasa itu yang sekarang menghantui Ica. Kenangan buruk yang sudah ia kubur dalam-dalam, sekarang kembali lagi. Ia belum siap kalau harus bertemu dengan seseorang yang mengubahnya menjadi itik buruk rupa. Dia membanting badannya pada kasur yang sedari tadi ia duduki. Pandangannya terus terpaku pada origami kecil dihadapannya, sedangkan pikirannya kembali mengingat masa-masa buruk itu.
--- Flashback---
Ica terbelalak kaget, ketika mendapati kemesraan antara seseorang yang sangat ia cintai dengan seorang gadis yang mungkin baru pertama kali ia lihat. Sakit. Rasa itu terus menghujam hatinya. Air mata dari sudut matanya menyeruak keluar. Dia mendekati meja bernomorkan 14, yang sedari tadi menjadi objek pengamatannya.
“Reno.. Kamu.. Apa yang kamu lakuin sama cewek ini?” teriak Ica sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah gadis di samping Reno. Ica tak sadar bahwa teriakannya tadi begitu menyita perhatian pengunjung.
Tak ada perasaan bersalah dari cara Reno memandang Ica. Ia malah terlihat tersenyum, ketika mendapati Ica dihadapannya. Pelukannya terhadap gadis itupun tak kunjung ia lepas, terlihat semakin dekat. “Yang gue lakuin? Bukannya loe punya mata ya? Seharusnya loe tau kan apa yang gue lakuin sama cewek ini?” respon Reno.
Air mata Ica semakin membanjiri pipinya. “Kamu anggap aku apa selama ini?!! Hah!!” Suara Ica terdengar bergetar.
“Cewek pintar di sekolah. Tapi, ternyata otak loe nggak sepintar yang gue kira. Mau-maunya loe gue manfaatin. Masa loe nggak nyadar juga sih, kalo selama ini loe cuman gue kibulin dengan embel-embel cinta?!” jawab Reno datar. “Loe tahu nggak, gue cuman pengen manfaatin kePINTARan loe doang.” Tambah Reno.
Rasa sakit terus menyayat hati Ica. Ternyata selama ini Reno tak benar-benar mencintainya ataupun menyayanginya. “Oh, jadi gitu. Gue pikir loe tuh cowok yang bisa selalu ngehargain perasaan ceweknya, selalu bisa nglindungin ceweknya, selalu bisa ngejagain perasaan ceweknya. Tapi, ternyata pemikiran gue selama ini, SALAH, bahkan SALAH BESAR. OK, Kalau memang ini mau loe, mulai sekarang kita putus.!!” Teriak Ica.
“Ok. Fine. Mulai sekarang, kita nggak punya hubungan apa-apa lagi.” Jawab Reno santai.
Ica mengangguk mantap. “Terima kasih untuk pengkhianatan ini!” Ica segera meninggalkan café. Perasaannya sedang kacau sekarang.
--- Flashback off---
Ia semakin menggenggam burung bangau kecil itu erat-erat. Hanya benda mungil itulah yang bisa menguatkan hatinya. Ia kembali menatap monitor hand-phonenya. Ada 10 pesan masuk dan 1 received call. Semuanya dari Rafi. Ia sengaja tak mengangkat ataupun membalas satupun sms dari Rafi. Ia membutuhkan waktu untuk mengistirahatkan pikirannya sejenak. Tak lama kemudian, Ica sudah memasuki alam bawah sadarnya.
*
Sejak pagi, Ica tak sekalipun membalas pesan dari Rafi. Tingkah laku Ica semakin membuat Rafi khawatir. Rafi segera mengambil kunci motornya bermaksud ingin menuju ke rumah Ica.
Drrtt rtt..
Rafi yang mengetahui hand-phonenya bergetar langsung membuka 1received message pada hand-phonenya. Ia berharap bahwa yang mengirim pesan tersebut adalah orang yang sangat dinanti-nantikan. Dan benar saja, Icalah yang mengirim pesan tersebut.
From : Ica
Raf, aku pengen ketemu sama kamu sekarang..
Ada hal penting yang mau aku omongin sama kamu..
Aku tunggu kamu di tempat biasa..
Tanpa pikir panjang, Rafi langsung menyusul Ica di tempat biasa. Danau buatan di sekitar rumah Ica.
*
Angin malam yang mengusik tubuhnya malam itu tak membuatnya merasa terganggu. Sesekali ia menggosokkan kedua tangannya untuk mengatur suhu tubuhnya. Bintang kali ini terlihat sangat terang, menyapu kegelapan langit malam ini. Dia duduk di kursi tepi danau dengan mata yang terpaku pada danau dihadapannya. Ia sedang menanti seseorang.
Cahaya lampu menerpa wajah gadis bercardigan hitam itu, Rafi –yang dinanti- segera melangkahkan kakinya ke arah Ica. Ia duduk di sisa bangku yang diduduki kekasihnya.
Tampak raut kecemasan pada wajah Rafi. “Kenapa Ca.? Kamu lagi sedih?” Rafi mengusap pipi gadisnya itu.
Ica hanya bisa tersenyum pahit. Dia memalingkan wajah ke arah danau. “Raf, seseorang itu datang lagi.” Kata Ica lirih.
“Siapa? Maksud kamu..” Ica menyela kata-kata Rafi. “Iya. Dia datang ke kehidupanku lagi.” Buliran-buliran hangat memenuhi pelupuk gadis itu. Rafi membelai rambut Ica dan meletakkan kepala Ica ke bahunya.
“Seseorang itu…” Ica menghela nafas sebelum meneruskan kata-katanya. “Reno…” suara itu terdengar semakin bergetar.
Rafi shock setelah mendengar kata-kata Ica. Ia tak mengira bahwa seseorang itu adalah Reno, saudaranya. Pantas saja raut muka Reno tadi pagi begitu mengganggu bagi Rafi. Dan yang lebih parah, yang membuat Ica membuka masa lalunya adalah dia sendiri. Dia sengaja mempertemukan Reno dan Ica.
Ia menghapus air mata gadisnya itu dengan ibu jarinya. “Maafin aku ya, Ca.Kalau aku tau Renolah seseorang itu, pasti gak akan aku biarkan kamu bertemu dengan Reno.” Kata Rafi lirih.
Ica menggelengkan kepalanya dan tersenyum kecil. “Nggak papa kok, Raf. Maaf ya, dari tadi aku nggak bales dan nggak ngangkat telpon kamu. Aku butuh waktu buat nenangin diri.” Ica mengubah arah pandangannya ke arah danau. “Menurut kamu, aku harus dengerin penjelasan dari dia nggak.?”
“Menurut aku, dia berhak jelasin semuanya. Kamu juga harus tau apa alasan dia, agar kamu nggak terus salah paham. Mungkin kamu harus ketemu dengan dia. Keputusan ada di tangan kamu.”
Ica menoleh ke arah Rafi dan tersenyum kecil, walaupun air matanya kini membanjiri pipinya. “Kalo aku ketemu sama dia hanya berdua, kamu nggak akan marah kan?”
Rafi menggelengkan kepalanya dan meraih kedua pipi Ica dengan jemarinya. “Nggak kok Ca. Apa yang membuat aku marah? Nggak ada.”
“Makasih ya, Raf. Sampe’in ke Reno, aku mau ketemu sama dia di café bintang besok jam satu siang.” Kata Ica. Rafipun mengangguk kecil dan membiarkan kepala kekasihnya itu bersandar di bahunya.
*
Reno sudah menanti Ica di café bintang sejak setengah jam yang lalu. Reno memang sengaja datang lebih awal, karena ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Lyssa peri masa lalunya. Dia berharap peri kecilnya itu dapat kembali kepelukannya lagi.
Ica turun dari mobilnya. Dia menarik nafas panjang, air matanya ingin meluap lagi. Dia masih merasakan sakit ketika mengingat kejadian itu. Ia menguatkan hatinya, bahwa ia tak boleh terlarut dalam kesedihan ini. Kakinya segera menuju ke meja di mana Reno berada.
“Lyssa!! Ehmm maksud gue Ica. Gue udah nggak sabar buat ketemu loe.” Kata Reno sambil mempersilakan Ica duduk.
Ica hanya tersenyum kecil. Dia melihat secangkir coklat panas di hadapannya. “Masih inget kesukaan gue loe?”
“Apa sih yang bisa gue lupain dari loe, Ca? Gue juga masih inget tentang pantai pasir putih itu.” kata Reno lirih.
Ica tersenyum. “Apa yang mau loe jelasin ke gue.?” Ica mengalihkan topik pembicaraan.
“Gue mau jelasin semuanya. Waktu itu, gue nggak beneran mau ninggalin loe. Loe terlalu berarti buat gue tinggalin.”
“Terus?” Ica memotong perkataan Reno.
Reno menarik nafas panjang. “Gue terlalu egois, Ca. Maafin gue, gue udah campakin loe dulu. Gue terlalu mikirin kebahagiaan gue. Gue hanya mikirin kebahagiaan sesaat aja. Gue baru nyadar kalo gue nggak mau kehilangan loe setelah gue ninggalin loe demi cewek itu. Ternyata gadis itu juga mainin gue doang, Ca, gue hanya bisa ngrasain ketulusan cinta itu dari loe.” Reno menatap Ica dalam.
“Penyesalan selalu datang di akhir.” Ica tersenyum simpul. “Terus? Sekarang apa mau loe?”
“Gue mau mulai dari awal, Ca. Gue janji gue nggak akan ninggalin loe lagi, gue nggak akan bikin loe kecewa, gue akan ngrubah sifat gue itu. Pliss Ca, kembali sama gue.”
Ica menggeleng. “Nggak bisa, Ren. Gue udah milik Rafi sekarang. Itu pilihan gue. Dia udah hadir di kehidupan gue di saat gue kehilangan loe. Dia nemenin gue di saat gue lagi kalut. Dia udah hapus semua rasa sakit gue. Dia selalu buat gue tersenyum. Mau berpuluh ribu janji mau loe ucapin, gue nggak akan bisa berpaling dari pendirian gue.” Kata Ica tegas.
Reno tersenyum pahit. Dia menyesali perbuatannya satu tahun yang lalu. Seharusnya dia tak meninggalkan peri yang sangat berarti dihatinya ini. Yang selalu memberinya kasih sayang dan cinta dengan tulus. Tapi, dia juga harus mengerti posisi peri kecilnya saat ini. Peri kecilnya saat ini sudah dimiliki orang lain. Dan tak mungkin lagi untuk kembali kepelukannya.
“Gue mohon loe bisa ngertiin gue.” Kata Ica di sela-sela lamunan Reno.
“Gue berusaha ngerti, Ca. Tapi, loe maafin gue kan?” tanya Reno penuh harap. Ica mengangguk “Gue maafin loe kok.” Seulas senyum tercipta di wajah Ica.
“Makasih ya, Ca. Beruntung banget Rafi bisa dapetin loe.”
“Biasa aja kali.” Ica tertawa lepas. Akhirnya kini Reno dapat melihat tawa lepas dari peri kecilnya yang sangat ia rindukan.
*
Reno mencari channel radio untuk mengisi kejenuhannya. Dia belum menemukan siaran yang tepat. Hingga dia mendengarkan sebuah lagu yang sangat pas dengan suasana hatinya saat ini.
Tersentak aku seketika
Seakan-akan tak percaya
Saat ku lihat kau telah berdua
Sebelum sampai diriku melepas rindu
Ya, Reno sangat rindu dengan kasih sayang peri kecilnya. Kasih sayang yang dicurahkan dengan ketulusan. Tapi, ketika ia ingin mendapatkannya kembali, ternyata hati peri kecilnya itu telah berlabuh pada hati seseorang pilihannya. Pilihan yang mungkin lebih baik dari dirinya.
Tak satupun kata terucap
Ketika ku tanya mengapa
Airmata penyesalan mengalir deras
Itu pun tak bisa kembalikan dirimu
Rasa penyesalan seperti apapun, takkan pernah bisa mengubah keadaan. Takkan bisa merubah pendirian peri kecilnya. Peri kecilnya takkan bisa kembali kepelukannya lagi. Ica akan selalu berada pada pelukkan Rafi, seseorang yang sangat menyayanginya. Dia terus meresapi makna di setiap bait lagu itu dilantunkan.
Ku maafkan semua ini
Walau tak ingin lagi ku melihatmu
Ku maklumi ketidaksabaranmu menanti
Bejana cinta yg ku tinggal sesaat
Sudahlah, lupakanlah
Tak mungkin lagi kau ku miliki
Dia mematikan siaran radio tersebut. Dia tersenyum pahit. Sakit terus bergelut dihatinya. Tapi, apa yang bisa ia lakukan? Tak ada untuk saat ini. Seharusnya dia merasakan kebahagiaan yang dirasakan peri kecilnya. Seharusnya dia merasa bahagia melihat peri kecilnya tersenyum.
Lega. Itulah yang ia rasakan sekarang. Rafi telah membuatnya peri kecilnya itu kembali tersenyum. Peri kecilnya tak pernah merasa sedih sekarang. Dia harus berhenti berfikir egois. Dia juga harus memikirkan kebahagian orang lain. Dia harus yakin, bahwa ada suatu rencana yang lebih baik di balik semua ini.

--- The End ---

Jumat, 06 Agustus 2010

Semua Gara-Gara Bola Basket Part-1 - By Miss Blue :) -

BUKK…!!!

“Aaaaww..” kata seorang cewek yang jatuh terduduk bersamaan dengan suara jatuhnya bola basket yang menggelinding tepat di sebelah kanannya. Dia terlihat sedang memegang bagian kepalanya yang terkena timpukan bola basket beberapa waktu yang lalu.

“Eh.. sory. Loe nggak papa kan..??” kata seorang cowok yang menghampirinya, dan mengulurkan tangannya bermaksud untuk menolong cewek tersebut.

Cewek itupun mengangkat wajahnya sambil menatap cowok yang menawarkan bantuan padanya. Dan tanpa diduga cewek tersebut menepis uluran tangan yang ada di hadapannya. “Nggak papa, nggak papa. Loe tau nggak, bola basket tuh segede apa. Gak sebanding kalo loe mau timpukin tuh bola ke kepala gue.! Kalo mau, timpukin aja bola basket itu ke kepala loe..!!!” teriak cewek itu sambil berdiri dengan kemampuannya sendiri.

“Gue juga nggak sengaja kali. Udah bagus gue mau nolongin loe. Siniin bola basket gue.” Kata cowok itu sambil menunjuk bola basket yang ia maksud.

“Emang gue pembokat loe apa.? Ambil aja sendiri.” Kata cewek tersebut masih dengan nada yang ditinggikan. Tiba-tiba dari arah belakang ada yang memanggilnya.

“REVAAA.. LOE NGGAK PAPA..!!” teriak sahabat karib yang-habis-kena-timpukan-bola-basket sambil berlari menuju ke arah lapangan.

“Eh.. loe temennya si cewek jadi-jadian ini ya.! Ajarin sopan santun ama dia. Kalo ada orang yang minta maaf seharusnya di maafin. Jangan asal nyolot nggak jelas..!!” kata cowok itu sambil berlalu dan menghampiri teman-teman basketnya.

“Ayo, Vi. Gue males ada di sini. Ketemu cowok rese kaya dia.” Kata cewek tersebut yang bernama Reva terhadap sahabatnya Via.

*

“Arrgghh.. Sial..!!!” kata Reva sambil duduk di salah satu bangku kelas XII IPA 2.

“Tadi loe kenapa sih, Rev.? Gue liat tadi loe lewat lapangan basket sambil marah-marah gitu.?” Tanya Via sambil duduk di bangku sebelah Reva.

“Gue KESEL!! Tadi pagi gue liat nyokap ama bokap gue bertengkar lagi, emang mereka nggak capek apa.?!?” Reva masih terlihat kesakitan dengan luka memar di keningnya.

“Loe yang sabar ya, Va” Via menenangkan Reva.

“Thanks ya Vi. Siapa tuh tadi yang nglempar gue, Kevin ya.?” Reva mendengus kesal.

“Yapp, dia temen sekelasnya Noval. Malah dia sebangku ama Noval.” Via menatap Reva.

“EGP. Mau dia temen sebangkunya Noval, temen seperjuangannya banci di taman lawang, ato temennya monyet di ragunan. TERSERAH..!! Yang jelas, mulai detik ini gue BENCI ama yang namanya Kevin..!! Udah bikin gue kesel untuk yang kedua kalinya..!!!” kata Reva sambil menunjukkan kekesalannya.

“Weeiitss. Benci nih. Bener-bener Cinta kan..??” kata Via dengan nada yang menggoda. Reva menatap Via dengan tatapan mata yang ingin menelan Via bulat-bulat.

Terbentuk sebuah cengiran di wajah Via. “Hehe.. jangan gitu dong, gue juga nggak serius kali.” Kata Via sambil membentuk huruf V dengan jari telunjuk dan jari tengahnya.Pembicaraan merekapun terhenti sejenak, ketika Mrs.Rina memasuki kelas mereka.

*

Istirahat kali ini mereka putuskan untuk pergi ke perpustakaan. Selain tidak ada yang mengetuk pintu lapar mereka, beberapa waktu yang lalu Mrs. Rina menyuruh mereka untuk mencari artikel tentang sosialisasi. Ketika mereka sampai di bibir pintu perpustakaan, ada salah seorang guru yang memanggil mereka.

“Via, Reva..” yang dipanggilpun langsung mengurungkan niatnya untuk menginjakan langkah pertamanya di perpustakaan, dan langsung berbalik ke arah suara itu berasal.

Hah.? Mereka kaget setengah hidup(?) ketika mereka mendapati sosok wanita yang mungkin mempunyai predikat guru terkiller di sekolahnya. Apa mereka belum mengerjakan PR.? Apa mereka mendapat nilai terjelek dalam ulangan Fisika kemarin.? Oh Tuhan apalagi ini.?

Merekapun segera melangkahkan kakinya ke arah Bu Uchie. Entah roh apa yang bisa mendorong mereka sampai ke hadapan Bu Uchie. Wajah yang semula mereka tundukkan langsung mendongak ke atas, dan mata mereka langsung terpaku pada wajah guru terkillernya tersebut.

“Ada apa, Bu..?” tanya Via dengan lirih.

“Tolong panggilkan Kevin dan Noval anak XII IPA 3, suruh menghadap Ibu sekarang.” Kata Bu Uchie dengan jelas.

“Hah.? Apa Bu.? Maksud ibu Raynald Kevin Pradana itu.?” Tanya Reva dengan tatapan kesal. Revapun tak tahu roh apa yang memasuki dirinya, sehingga dia berani berbicara dengan keras terhadap guru yang mungkin menjadi pusat ketakutan di sekolahnya. Dan mengapa ia hanya menyebutkan satu nama, sedangkan satunya.? Ah, masa bodoh.

“Apa ada masalah Reva.” Kata Bu Uchie sambil menatap Reva dalam-dalam.

Ketika Reva akan membuka mulutnya, Via yang berada di samping Reva langsung menyela Reva. “Ngg..Nggak Bu. Kalo gitu kita permisi dulu. Mari Bu.” Kata Via sambil menarik lengan Reva . Dan Reva hanya menatap Via dengan tatapan heran.

Setelah jauh dari tempat Bu Uchie berdiri, Reva langsung menepis tangan Via, yang sedari tadi mencengkeram lengannya.

“Lepasin napa..!!” kata Reva sambil berkacak pinggang.

“Loe gila ya, Rev.? Lo tau kan Bu Uchie itu siapa.? Bisa-bisa loe nggak ikutan pelajaran Bu Uchie selama 1 semester, mau loe..??!!??” kata Via sambil melotot ke arah Reva.

“Tau ah, burem gue. Loe panggil aja mereka. Gue nggak ikut-ikutan.” Reva melangkahkan kakinya menuju ke kelasnya. Via terlihat sedang menepuk keningnya.

“Gila Rev, gue lupa..!!!” teriak Via. Yang merasa namanya di sebut menghentikan langkahnya, dan menoleh ke belakang. Reva menatap Via dengan tatapan tanya.

“Gue lupa ngerjaen PR Fisika, loe udah kan Rev, gue pinjem ya.. Loe baik deh.. Dadaa Reva… Loe panggil mereka yaaaa…” teriak Via sambi berlari menjauhi Reva.

“VIIIIAAAAAAAA..” berpuluh pasang matapun menatap ke arah Reva. Dan Reva menatap berpuluh pasang mata itu dengan tatapan yang sinis. “Apa loe liat-liat.. Huh.!!” Kata Reva sambil menuju ke kelas IPA 3, kelas Kevin dan Noval.

Bersambuungg .. :)