Desiran ombak, kembali menentramkan hati seorang lelaki yang mungkin sudah beberapa kali mengunjungi pantai. Dari raut mukanya, terlihat ia sedang menikmati suasana pantai sore itu. Di tempat ia duduk sekarang, menyimpan berbagai kenangan manisnya bersama seseorang yang pernah dimilikinya 1 tahun yang lalu.
“Lyssa, kapan gue bakal ketemu loe lagi. Maafin gue, Sa.” Tangan pemuda itu tampak meremas pasir putih di sekitarnya. Tampak sebuah rasa penyesalan dari cara ia berkata.
*
“Yes, masuk.” Teriak Ica di akhir permainannya.
“Tapi, tetep aja kamu kalah.” Kata Rafi yang tak lain adalah kekasih dari Ica.
“Biarin, besok tanding lagi kan.? Lagi semangat-semangatnya nih, Raf.” Ica memainkan bola basket yang berada di tangannya.
Rafi menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Ehm, aku besok ada latihan basket sama temen-temen. Gimana kalo kamu maen ama sepupuku. Nanti malem kayaknya dia dateng ke sini.”
“Yah, aku kan pengennya maen sama kamu.”
“Sama aja kok. Gini aja, kamu maen ama dia anggep latihan aja deh, nanti kalo ketemu aku, cara bermain kamu harus lebih meningkat dari biasanya.” Kata Rafi sambil menyeka keringatnya.
Ica mendengus sebal, dan tersenyum paksa. “Iya deh.”
Rafi yang melihat Ica ngambek langsung menyentuh puncak kepala Ica yang lebih rendah darinya. “Jangan ngambek gitu dong sayang, nanti aku kepikiran kamu terus selama latian. Kamu tau kan sebentar lagi aku bakal ada turnamen sama SMA Achilles?”
Terbentuk sebuah cengiran di wajah Ica. “Hehe, nggak papa kok, Raf. Aku juga nggak ngambek beneran. Aku gak maksa kamu kok. Ini kan udah jadi perjanjian di awal kita jadian dulu. Kita nggak bakal ngeberatin semuanya diurusan cinta, sekolah tetep nomor satu. Kan ada slogan ‘Kejarlah cita-cita sebelum cinta’.” Ica tertawa kecil.
Rafi tersenyum simpul. “Makasih buat pengertiannya ya. Beruntung banget, aku bisa punya cewek yang pengertian kaya kamu. Pasti banyak banget cowok yang pengen punya cewek kaya kamu.”
Air muka Ica berubah setelah mendengar kata-kata Rafi. “Nggak semuanya, Raf. Buktinya…” Ica menghela nafas panjang.
Rafi menaruh telunjuknya pada bibir Ica. “Ssst.. Jangan di bahas lagi ya. Aku nggak mau liat kamu sedih hanya gara-gara inget masalah itu.” Ica tersenyum dan mengangguk kecil. Dia merasa beruntung, karena memiliki seorang kekasih yang begitu mengerti dirinya.
*
Sebuah mobil Maybach 62, memasuki rumah mewah bercat putih di salah satu kawasan perumahan elite di Jakarta. Tampak seorang lelaki muda sedang keluar dari mobil dan di sambut hangat oleh tuan rumah.
“Reno. Gimana kabar orang tua kamu di Bandung? Tante kangen nih.” Sang Nyonya rumah menghampiri lelaki yang bernama Reno itu dan mempersilahkannya masuk.
“Ehm, baik kok, Tan. Rafi mana? Ada keperluan sedikit nih Tan sama Rafi.” Kata Reno sambil melirik ke arah tangga.
“Ada tuh di kamarnya. Soal kamar kamu di mana, nanti kamu tanya Rafi aja ya.” Renopun mengangguk kecil. Reno segera berjalan menyusuri tangga dan menuju ke kamar Rafi.
“Reno, besok loe nggak ada acara kan.” Kata Rafi tiba-tiba ketika ia melihat Reno membuka pintu kamarnya. Reno menggeleng.
“Bagus. Loe besok temenin cewek gue maen ya. Gue lagi gak bisa nemenin dia maen, soalnya gue ada latian basket ama temen-temen.”
“Hmm, Ok deh. Besok gue temenin. Kan kesempatan tuh.” Kata Reno dengan nada yang dibuat-buat.
“Maksud loe.? Awas kalo cewek gue loe embat. Gue pites juga loe.”
Reno tertawa lepas. “Hahaha, bercanda bro. Selain gue mau liburan di sini. Gue juga mau cari peri kecil gue yang gue sia-siain 1 tahun yang lalu.” Air muka Reno tampak berubah.
“Peri kecil? Kok loe nggak pernah cerita ke gue. Namanya?”
“Lyssa.”
*
Gadis itu tersenyum ketika melihat origami berwarna putih yang tergeletak di meja belajarnya. Sesaat dia mengingat masa lalunya. 6 bulan yang lalu, sahabatnya yang kini telah menjadi kekasihnya memberi sebuah origami kecil berbentuk burung bangau. Walaupun kini origami itu terlihat kusam, tapi tidak untuk rasa di hatinya. Rasa cinta itu takkan pernah kusam, karena kekasihnya itu telah membuat dirinya menjadi seekor angsa, setelah setengah tahun berdiam diri menjadi itik buruk rupa.
Tanpa dia sadari, ia mengingat di saat dia menjadi itik buruk rupa yang selalu diselimuti kegelapan. Sedih, karena di tinggal oleh seseorang yang mungkin sangat berarti di hatinya dulu. Dulu.? Ya, dulu, karena saat ini bukan seseorang yang hilang itu yang sangat berarti. Seseorang yang mengubahnya menjadi seekor angsalah yang sangat berarti di hatinya, untuk sekarang.
*
“Sepi! Mana sodaranya Rafi belum dateng. Nggak on time banget jadi orang. Udah 1 jam gue nungguin dia.” Ica menggerutu kesal.
Ica mencoba mengeshoot bola untuk mengatasi kejenuhan. Sesaat dia mencoba melakukan lay up yang telah diajarkan Rafi beberapa minggu yang lalu.
“Ehmm, Ica bukan.?” Panggil seseorang tiba-tiba, dari arah belakang Ica. Ica memutar bola matanya dan menggerutu. ‘Akhirnya dateng juga loe.’ Gumam Ica dalam hati dan memutarbalikkan badannya ke arah lelaki –yang memanggilnya tadi-.
“Lyssa / Reno.!” Seru mereka bersamaan. Air muka kesal tercipta dari muka Ica. Reno melihat Ica –Lyssa peri kecilnya- dengan tatapan sedu.
“Jadi loe..” Ica mengarahkan jari telunjuknya ke arah Reno. Reno refleks memeluk Ica, peri kecilnya telah kembali saat ini. Ia tak memikirkan status peri kecilnya yang memiliki hubungan dengan saudaranya sendiri.
Ica terlihat sedang melepaskan diri dari pelukan Reno. “Lepasin.!!” Reno semakin mempererat pelukannya.
“Gue nggak akan nglepasin loe, Lyssa. Gue sayang banget ama loe. Maafin gue, Lyssa..!!” nada bicara Reno semakin tinggi.
“Lepasin.!!” Reno melepaskan pelukkannya. “Kemana aja loe.! Kenapa loe baru minta maaf sekarang.! Loe cuman manfaatin gue kan.! Setelah loe jadi bintang yang bersinar and loe udah milikin semuanya, loe pergi ninggalin gue. Sedikitpun loe nggak pernah ngertiin posisi gue waktu itu.!!” Emosi Ica semakin memuncak.
“Lyssa, dengerin gue dulu. Gue tahu, waktu itu gue salah. Gue nyesel sekarang.! Gue udah buang sifat gue itu. Hanya demi loe Lyssa!! Demi Loe!!” Reno menatap Ica dalam.
“Terserah.! Mau loe berubah karena gue, mau loe berubah karena siapa. Itu bukan urusan gue and gue nggak mau tahu itu.!!” Ica melewati Reno dan meninggalkan Reno sendiri di tengah lapangan. Reno membanting bola basket yang berada ditangannya dan berteriak sekencang mungkin.
*
Rafi terus memandangi monitor hand-phonenya. Sesaat dia mengetikkan beberapa kata dan menekan tombol sent pada keypad hand-phone. Tak ada satu balasan pesanpun dari Ica. Rafi memilih jalan lain. Ia mencoba menelpon Ica. Pintar sekali. Telepon itu juga di reject oleh Ica.
“Loe kenapa sih, Ca? Apa loe marah ama gue gara-gara nggak gue temenin.?” Kata Rafi lirih. “Reno!!” panggil Rafi saat dia melihat Reno berjalan dari arah teras.
Reno menatap Rafi dengan tatapan penuh kebencian. “Kenapa loe?” tanya Rafi ketika menyadari tatapan aneh dari saudaranya itu.
Reno tak menghiraukan pertanyaan dari Rafi. Ia segera melangkahkan kaki menuju kamarnya.
‘Semua orang pada aneh hari ini.’ Rafi kembali menatap layar handphonenya.
*
Kesal. Rasa itu yang sekarang menghantui Ica. Kenangan buruk yang sudah ia kubur dalam-dalam, sekarang kembali lagi. Ia belum siap kalau harus bertemu dengan seseorang yang mengubahnya menjadi itik buruk rupa. Dia membanting badannya pada kasur yang sedari tadi ia duduki. Pandangannya terus terpaku pada origami kecil dihadapannya, sedangkan pikirannya kembali mengingat masa-masa buruk itu.
--- Flashback---
Ica terbelalak kaget, ketika mendapati kemesraan antara seseorang yang sangat ia cintai dengan seorang gadis yang mungkin baru pertama kali ia lihat. Sakit. Rasa itu terus menghujam hatinya. Air mata dari sudut matanya menyeruak keluar. Dia mendekati meja bernomorkan 14, yang sedari tadi menjadi objek pengamatannya.
“Reno.. Kamu.. Apa yang kamu lakuin sama cewek ini?” teriak Ica sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah gadis di samping Reno. Ica tak sadar bahwa teriakannya tadi begitu menyita perhatian pengunjung.
Tak ada perasaan bersalah dari cara Reno memandang Ica. Ia malah terlihat tersenyum, ketika mendapati Ica dihadapannya. Pelukannya terhadap gadis itupun tak kunjung ia lepas, terlihat semakin dekat. “Yang gue lakuin? Bukannya loe punya mata ya? Seharusnya loe tau kan apa yang gue lakuin sama cewek ini?” respon Reno.
Air mata Ica semakin membanjiri pipinya. “Kamu anggap aku apa selama ini?!! Hah!!” Suara Ica terdengar bergetar.
“Cewek pintar di sekolah. Tapi, ternyata otak loe nggak sepintar yang gue kira. Mau-maunya loe gue manfaatin. Masa loe nggak nyadar juga sih, kalo selama ini loe cuman gue kibulin dengan embel-embel cinta?!” jawab Reno datar. “Loe tahu nggak, gue cuman pengen manfaatin kePINTARan loe doang.” Tambah Reno.
Rasa sakit terus menyayat hati Ica. Ternyata selama ini Reno tak benar-benar mencintainya ataupun menyayanginya. “Oh, jadi gitu. Gue pikir loe tuh cowok yang bisa selalu ngehargain perasaan ceweknya, selalu bisa nglindungin ceweknya, selalu bisa ngejagain perasaan ceweknya. Tapi, ternyata pemikiran gue selama ini, SALAH, bahkan SALAH BESAR. OK, Kalau memang ini mau loe, mulai sekarang kita putus.!!” Teriak Ica.
“Ok. Fine. Mulai sekarang, kita nggak punya hubungan apa-apa lagi.” Jawab Reno santai.
Ica mengangguk mantap. “Terima kasih untuk pengkhianatan ini!” Ica segera meninggalkan café. Perasaannya sedang kacau sekarang.
--- Flashback off---
Ia semakin menggenggam burung bangau kecil itu erat-erat. Hanya benda mungil itulah yang bisa menguatkan hatinya. Ia kembali menatap monitor hand-phonenya. Ada 10 pesan masuk dan 1 received call. Semuanya dari Rafi. Ia sengaja tak mengangkat ataupun membalas satupun sms dari Rafi. Ia membutuhkan waktu untuk mengistirahatkan pikirannya sejenak. Tak lama kemudian, Ica sudah memasuki alam bawah sadarnya.
*
Sejak pagi, Ica tak sekalipun membalas pesan dari Rafi. Tingkah laku Ica semakin membuat Rafi khawatir. Rafi segera mengambil kunci motornya bermaksud ingin menuju ke rumah Ica.
Drrtt rtt..
Rafi yang mengetahui hand-phonenya bergetar langsung membuka 1received message pada hand-phonenya. Ia berharap bahwa yang mengirim pesan tersebut adalah orang yang sangat dinanti-nantikan. Dan benar saja, Icalah yang mengirim pesan tersebut.
From : Ica
Raf, aku pengen ketemu sama kamu sekarang..
Ada hal penting yang mau aku omongin sama kamu..
Aku tunggu kamu di tempat biasa..
Tanpa pikir panjang, Rafi langsung menyusul Ica di tempat biasa. Danau buatan di sekitar rumah Ica.
*
Angin malam yang mengusik tubuhnya malam itu tak membuatnya merasa terganggu. Sesekali ia menggosokkan kedua tangannya untuk mengatur suhu tubuhnya. Bintang kali ini terlihat sangat terang, menyapu kegelapan langit malam ini. Dia duduk di kursi tepi danau dengan mata yang terpaku pada danau dihadapannya. Ia sedang menanti seseorang.
Cahaya lampu menerpa wajah gadis bercardigan hitam itu, Rafi –yang dinanti- segera melangkahkan kakinya ke arah Ica. Ia duduk di sisa bangku yang diduduki kekasihnya.
Tampak raut kecemasan pada wajah Rafi. “Kenapa Ca.? Kamu lagi sedih?” Rafi mengusap pipi gadisnya itu.
Ica hanya bisa tersenyum pahit. Dia memalingkan wajah ke arah danau. “Raf, seseorang itu datang lagi.” Kata Ica lirih.
“Siapa? Maksud kamu..” Ica menyela kata-kata Rafi. “Iya. Dia datang ke kehidupanku lagi.” Buliran-buliran hangat memenuhi pelupuk gadis itu. Rafi membelai rambut Ica dan meletakkan kepala Ica ke bahunya.
“Seseorang itu…” Ica menghela nafas sebelum meneruskan kata-katanya. “Reno…” suara itu terdengar semakin bergetar.
Rafi shock setelah mendengar kata-kata Ica. Ia tak mengira bahwa seseorang itu adalah Reno, saudaranya. Pantas saja raut muka Reno tadi pagi begitu mengganggu bagi Rafi. Dan yang lebih parah, yang membuat Ica membuka masa lalunya adalah dia sendiri. Dia sengaja mempertemukan Reno dan Ica.
Ia menghapus air mata gadisnya itu dengan ibu jarinya. “Maafin aku ya, Ca.Kalau aku tau Renolah seseorang itu, pasti gak akan aku biarkan kamu bertemu dengan Reno.” Kata Rafi lirih.
Ica menggelengkan kepalanya dan tersenyum kecil. “Nggak papa kok, Raf. Maaf ya, dari tadi aku nggak bales dan nggak ngangkat telpon kamu. Aku butuh waktu buat nenangin diri.” Ica mengubah arah pandangannya ke arah danau. “Menurut kamu, aku harus dengerin penjelasan dari dia nggak.?”
“Menurut aku, dia berhak jelasin semuanya. Kamu juga harus tau apa alasan dia, agar kamu nggak terus salah paham. Mungkin kamu harus ketemu dengan dia. Keputusan ada di tangan kamu.”
Ica menoleh ke arah Rafi dan tersenyum kecil, walaupun air matanya kini membanjiri pipinya. “Kalo aku ketemu sama dia hanya berdua, kamu nggak akan marah kan?”
Rafi menggelengkan kepalanya dan meraih kedua pipi Ica dengan jemarinya. “Nggak kok Ca. Apa yang membuat aku marah? Nggak ada.”
“Makasih ya, Raf. Sampe’in ke Reno, aku mau ketemu sama dia di café bintang besok jam satu siang.” Kata Ica. Rafipun mengangguk kecil dan membiarkan kepala kekasihnya itu bersandar di bahunya.
*
Reno sudah menanti Ica di café bintang sejak setengah jam yang lalu. Reno memang sengaja datang lebih awal, karena ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Lyssa peri masa lalunya. Dia berharap peri kecilnya itu dapat kembali kepelukannya lagi.
Ica turun dari mobilnya. Dia menarik nafas panjang, air matanya ingin meluap lagi. Dia masih merasakan sakit ketika mengingat kejadian itu. Ia menguatkan hatinya, bahwa ia tak boleh terlarut dalam kesedihan ini. Kakinya segera menuju ke meja di mana Reno berada.
“Lyssa!! Ehmm maksud gue Ica. Gue udah nggak sabar buat ketemu loe.” Kata Reno sambil mempersilakan Ica duduk.
Ica hanya tersenyum kecil. Dia melihat secangkir coklat panas di hadapannya. “Masih inget kesukaan gue loe?”
“Apa sih yang bisa gue lupain dari loe, Ca? Gue juga masih inget tentang pantai pasir putih itu.” kata Reno lirih.
Ica tersenyum. “Apa yang mau loe jelasin ke gue.?” Ica mengalihkan topik pembicaraan.
“Gue mau jelasin semuanya. Waktu itu, gue nggak beneran mau ninggalin loe. Loe terlalu berarti buat gue tinggalin.”
“Terus?” Ica memotong perkataan Reno.
Reno menarik nafas panjang. “Gue terlalu egois, Ca. Maafin gue, gue udah campakin loe dulu. Gue terlalu mikirin kebahagiaan gue. Gue hanya mikirin kebahagiaan sesaat aja. Gue baru nyadar kalo gue nggak mau kehilangan loe setelah gue ninggalin loe demi cewek itu. Ternyata gadis itu juga mainin gue doang, Ca, gue hanya bisa ngrasain ketulusan cinta itu dari loe.” Reno menatap Ica dalam.
“Penyesalan selalu datang di akhir.” Ica tersenyum simpul. “Terus? Sekarang apa mau loe?”
“Gue mau mulai dari awal, Ca. Gue janji gue nggak akan ninggalin loe lagi, gue nggak akan bikin loe kecewa, gue akan ngrubah sifat gue itu. Pliss Ca, kembali sama gue.”
Ica menggeleng. “Nggak bisa, Ren. Gue udah milik Rafi sekarang. Itu pilihan gue. Dia udah hadir di kehidupan gue di saat gue kehilangan loe. Dia nemenin gue di saat gue lagi kalut. Dia udah hapus semua rasa sakit gue. Dia selalu buat gue tersenyum. Mau berpuluh ribu janji mau loe ucapin, gue nggak akan bisa berpaling dari pendirian gue.” Kata Ica tegas.
Reno tersenyum pahit. Dia menyesali perbuatannya satu tahun yang lalu. Seharusnya dia tak meninggalkan peri yang sangat berarti dihatinya ini. Yang selalu memberinya kasih sayang dan cinta dengan tulus. Tapi, dia juga harus mengerti posisi peri kecilnya saat ini. Peri kecilnya saat ini sudah dimiliki orang lain. Dan tak mungkin lagi untuk kembali kepelukannya.
“Gue mohon loe bisa ngertiin gue.” Kata Ica di sela-sela lamunan Reno.
“Gue berusaha ngerti, Ca. Tapi, loe maafin gue kan?” tanya Reno penuh harap. Ica mengangguk “Gue maafin loe kok.” Seulas senyum tercipta di wajah Ica.
“Makasih ya, Ca. Beruntung banget Rafi bisa dapetin loe.”
“Biasa aja kali.” Ica tertawa lepas. Akhirnya kini Reno dapat melihat tawa lepas dari peri kecilnya yang sangat ia rindukan.
*
Reno mencari channel radio untuk mengisi kejenuhannya. Dia belum menemukan siaran yang tepat. Hingga dia mendengarkan sebuah lagu yang sangat pas dengan suasana hatinya saat ini.
Tersentak aku seketika
Seakan-akan tak percaya
Saat ku lihat kau telah berdua
Sebelum sampai diriku melepas rindu
Ya, Reno sangat rindu dengan kasih sayang peri kecilnya. Kasih sayang yang dicurahkan dengan ketulusan. Tapi, ketika ia ingin mendapatkannya kembali, ternyata hati peri kecilnya itu telah berlabuh pada hati seseorang pilihannya. Pilihan yang mungkin lebih baik dari dirinya.
Tak satupun kata terucap
Ketika ku tanya mengapa
Airmata penyesalan mengalir deras
Itu pun tak bisa kembalikan dirimu
Rasa penyesalan seperti apapun, takkan pernah bisa mengubah keadaan. Takkan bisa merubah pendirian peri kecilnya. Peri kecilnya takkan bisa kembali kepelukannya lagi. Ica akan selalu berada pada pelukkan Rafi, seseorang yang sangat menyayanginya. Dia terus meresapi makna di setiap bait lagu itu dilantunkan.
Ku maafkan semua ini
Walau tak ingin lagi ku melihatmu
Ku maklumi ketidaksabaranmu menanti
Bejana cinta yg ku tinggal sesaat
Sudahlah, lupakanlah
Tak mungkin lagi kau ku miliki
Dia mematikan siaran radio tersebut. Dia tersenyum pahit. Sakit terus bergelut dihatinya. Tapi, apa yang bisa ia lakukan? Tak ada untuk saat ini. Seharusnya dia merasakan kebahagiaan yang dirasakan peri kecilnya. Seharusnya dia merasa bahagia melihat peri kecilnya tersenyum.
Lega. Itulah yang ia rasakan sekarang. Rafi telah membuatnya peri kecilnya itu kembali tersenyum. Peri kecilnya tak pernah merasa sedih sekarang. Dia harus berhenti berfikir egois. Dia juga harus memikirkan kebahagian orang lain. Dia harus yakin, bahwa ada suatu rencana yang lebih baik di balik semua ini.
--- The End ---
Rabu, 11 Agustus 2010
Tak Mungkin Lagi :)
Diposting oleh Myy Bloggggss di 03.15 0 komentar
Label: Story
Jumat, 06 Agustus 2010
Semua Gara-Gara Bola Basket Part-1 - By Miss Blue :) -
BUKK…!!!
“Aaaaww..” kata seorang cewek yang jatuh terduduk bersamaan dengan suara jatuhnya bola basket yang menggelinding tepat di sebelah kanannya. Dia terlihat sedang memegang bagian kepalanya yang terkena timpukan bola basket beberapa waktu yang lalu.
“Eh.. sory. Loe nggak papa kan..??” kata seorang cowok yang menghampirinya, dan mengulurkan tangannya bermaksud untuk menolong cewek tersebut.
Cewek itupun mengangkat wajahnya sambil menatap cowok yang menawarkan bantuan padanya. Dan tanpa diduga cewek tersebut menepis uluran tangan yang ada di hadapannya. “Nggak papa, nggak papa. Loe tau nggak, bola basket tuh segede apa. Gak sebanding kalo loe mau timpukin tuh bola ke kepala gue.! Kalo mau, timpukin aja bola basket itu ke kepala loe..!!!” teriak cewek itu sambil berdiri dengan kemampuannya sendiri.
“Gue juga nggak sengaja kali. Udah bagus gue mau nolongin loe. Siniin bola basket gue.” Kata cowok itu sambil menunjuk bola basket yang ia maksud.
“Emang gue pembokat loe apa.? Ambil aja sendiri.” Kata cewek tersebut masih dengan nada yang ditinggikan. Tiba-tiba dari arah belakang ada yang memanggilnya.
“REVAAA.. LOE NGGAK PAPA..!!” teriak sahabat karib yang-habis-kena-timpukan-bola-basket sambil berlari menuju ke arah lapangan.
“Eh.. loe temennya si cewek jadi-jadian ini ya.! Ajarin sopan santun ama dia. Kalo ada orang yang minta maaf seharusnya di maafin. Jangan asal nyolot nggak jelas..!!” kata cowok itu sambil berlalu dan menghampiri teman-teman basketnya.
“Ayo, Vi. Gue males ada di sini. Ketemu cowok rese kaya dia.” Kata cewek tersebut yang bernama Reva terhadap sahabatnya Via.
*
“Arrgghh.. Sial..!!!” kata Reva sambil duduk di salah satu bangku kelas XII IPA 2.
“Tadi loe kenapa sih, Rev.? Gue liat tadi loe lewat lapangan basket sambil marah-marah gitu.?” Tanya Via sambil duduk di bangku sebelah Reva.
“Gue KESEL!! Tadi pagi gue liat nyokap ama bokap gue bertengkar lagi, emang mereka nggak capek apa.?!?” Reva masih terlihat kesakitan dengan luka memar di keningnya.
“Loe yang sabar ya, Va” Via menenangkan Reva.
“Thanks ya Vi. Siapa tuh tadi yang nglempar gue, Kevin ya.?” Reva mendengus kesal.
“Yapp, dia temen sekelasnya Noval. Malah dia sebangku ama Noval.” Via menatap Reva.
“EGP. Mau dia temen sebangkunya Noval, temen seperjuangannya banci di taman lawang, ato temennya monyet di ragunan. TERSERAH..!! Yang jelas, mulai detik ini gue BENCI ama yang namanya Kevin..!! Udah bikin gue kesel untuk yang kedua kalinya..!!!” kata Reva sambil menunjukkan kekesalannya.
“Weeiitss. Benci nih. Bener-bener Cinta kan..??” kata Via dengan nada yang menggoda. Reva menatap Via dengan tatapan mata yang ingin menelan Via bulat-bulat.
Terbentuk sebuah cengiran di wajah Via. “Hehe.. jangan gitu dong, gue juga nggak serius kali.” Kata Via sambil membentuk huruf V dengan jari telunjuk dan jari tengahnya.Pembicaraan merekapun terhenti sejenak, ketika Mrs.Rina memasuki kelas mereka.
*
Istirahat kali ini mereka putuskan untuk pergi ke perpustakaan. Selain tidak ada yang mengetuk pintu lapar mereka, beberapa waktu yang lalu Mrs. Rina menyuruh mereka untuk mencari artikel tentang sosialisasi. Ketika mereka sampai di bibir pintu perpustakaan, ada salah seorang guru yang memanggil mereka.
“Via, Reva..” yang dipanggilpun langsung mengurungkan niatnya untuk menginjakan langkah pertamanya di perpustakaan, dan langsung berbalik ke arah suara itu berasal.
Hah.? Mereka kaget setengah hidup(?) ketika mereka mendapati sosok wanita yang mungkin mempunyai predikat guru terkiller di sekolahnya. Apa mereka belum mengerjakan PR.? Apa mereka mendapat nilai terjelek dalam ulangan Fisika kemarin.? Oh Tuhan apalagi ini.?
Merekapun segera melangkahkan kakinya ke arah Bu Uchie. Entah roh apa yang bisa mendorong mereka sampai ke hadapan Bu Uchie. Wajah yang semula mereka tundukkan langsung mendongak ke atas, dan mata mereka langsung terpaku pada wajah guru terkillernya tersebut.
“Ada apa, Bu..?” tanya Via dengan lirih.
“Tolong panggilkan Kevin dan Noval anak XII IPA 3, suruh menghadap Ibu sekarang.” Kata Bu Uchie dengan jelas.
“Hah.? Apa Bu.? Maksud ibu Raynald Kevin Pradana itu.?” Tanya Reva dengan tatapan kesal. Revapun tak tahu roh apa yang memasuki dirinya, sehingga dia berani berbicara dengan keras terhadap guru yang mungkin menjadi pusat ketakutan di sekolahnya. Dan mengapa ia hanya menyebutkan satu nama, sedangkan satunya.? Ah, masa bodoh.
“Apa ada masalah Reva.” Kata Bu Uchie sambil menatap Reva dalam-dalam.
Ketika Reva akan membuka mulutnya, Via yang berada di samping Reva langsung menyela Reva. “Ngg..Nggak Bu. Kalo gitu kita permisi dulu. Mari Bu.” Kata Via sambil menarik lengan Reva . Dan Reva hanya menatap Via dengan tatapan heran.
Setelah jauh dari tempat Bu Uchie berdiri, Reva langsung menepis tangan Via, yang sedari tadi mencengkeram lengannya.
“Lepasin napa..!!” kata Reva sambil berkacak pinggang.
“Loe gila ya, Rev.? Lo tau kan Bu Uchie itu siapa.? Bisa-bisa loe nggak ikutan pelajaran Bu Uchie selama 1 semester, mau loe..??!!??” kata Via sambil melotot ke arah Reva.
“Tau ah, burem gue. Loe panggil aja mereka. Gue nggak ikut-ikutan.” Reva melangkahkan kakinya menuju ke kelasnya. Via terlihat sedang menepuk keningnya.
“Gila Rev, gue lupa..!!!” teriak Via. Yang merasa namanya di sebut menghentikan langkahnya, dan menoleh ke belakang. Reva menatap Via dengan tatapan tanya.
“Gue lupa ngerjaen PR Fisika, loe udah kan Rev, gue pinjem ya.. Loe baik deh.. Dadaa Reva… Loe panggil mereka yaaaa…” teriak Via sambi berlari menjauhi Reva.
“VIIIIAAAAAAAA..” berpuluh pasang matapun menatap ke arah Reva. Dan Reva menatap berpuluh pasang mata itu dengan tatapan yang sinis. “Apa loe liat-liat.. Huh.!!” Kata Reva sambil menuju ke kelas IPA 3, kelas Kevin dan Noval.
Bersambuungg .. :)
Diposting oleh Myy Bloggggss di 01.51 0 komentar
Sabtu, 10 April 2010
Jumat, 09 April 2010
Rasa Ini - Vierra
ku tak percaya kau ada disini
menemaniku di saat dia pergi
sungguh bahagia kau ada disini
menghapus semua sakit yang kurasa
mungkinkah kau merasakan
semua yang ku pasrahkan
kenanglah kasih..
Reff :
ku suka dirinya, mungkin aku sayang
namun apakah mungkin, kau menjadi milikku
kau pernah menjadi , menjadi miliknya
namun salahlah aku, bila ku pendam rasa ini
na nana nanana nana nanana
back to * , Reff
back to Reff
Diposting oleh Myy Bloggggss di 02.41 0 komentar
Label: Lirik Lagu
Marcell - Takkan Terganti
Telah lama sendiri
Dalam langkah sepi
Tak pernah kukira bahwa akhirnya
Tiada dirimu di sisiku
[*]
Meski waktu datang dan berlalu
Sampai kau tiada bertahan
Semua takkan mampu mengubahku
Hanyalah kau yang ada di relungku
[**]
Hanyalah dirimu
Mampu membuatku jatuh dan mencinta
Kau bukan hanya sekedar indah
Kau tak akan terganti
Tak pernah ku duga bahwa akhirnya
Tergugat janjimu dan janjiku
Back to [*][**] 2x
Kau tak akan terganti
Diposting oleh Myy Bloggggss di 02.41 0 komentar
Label: Lirik Lagu
Connected - Katharine Mcphee

I'm blind-folded on this carriage ride that they call life.
Keep trying to make it through the next turn, knuckles white and holdin' tight.
So here I go, takin' the curve,
but I know that I'm never alone.
I think of you, and how you never let me go.
I feel connected (connected), protected (protected), it's like you're standing right with me all the time.
You hear me (you hear me), you're near me (you're near me),
and everything else is gonna be alright.
'Cause nothing can break this, nothing can break this, nothing can break this tie.
Connected... oooooh connected inside.
It's not an accident, the time we spent apart.
But now we're so close, I can always find you right here in my heart.
You've given me somethin' I need, and I don't ever want it to end.
Because of you, I know I've found my strength again.
I feel connected (connected), protected (protected), it's like you're standing right with me all the time.
You hear me (you hear me), you're near me (you're near me),
and everything else is gonna be alright.
'Cause nothing can break this, nothing can break this, nothing can break this tie.
Connected... ooooh connected inside.
Everytime that I breathe, I can feel the energy.
Reachin' out, flowin' through, you to me and me to you. wake or dream,
walk or stand, you are everywhere I am.
Seperate souls, unified, touching at the speed of light.
oh, yeaaaaaaaaah, oh whoa YEAH
I feel connected (connected), protected (protected), it's like you're standing right with me all the time.
You hear me, you're near me,
and everything else's gonna be alright.
connected (connected), protected (protected), it's like you're sitting right with me all the time.
You hear me, you're near me,
and everything else's gonna be alright.
'Cause nothing can break this, nothing can break this, nothing can break this tie.
connected, connected inside, connected, connected inside, connected.
oh Yeah!
Diposting oleh Myy Bloggggss di 02.39 0 komentar
Label: Lirik Lagu
Cinderella
Once there was a gentleman who married, for his second wife, the proudest and most haughty woman that was ever seen. She had, by a former husband, two daughters of her own, who were, indeed, exactly like her in all things. He had likewise, by another wife, a young daughter, but of unparalleled goodness and sweetness of temper, which she took from her mother, who was the best creature in the world.
No sooner were the ceremonies of the wedding over but the stepmother began to show herself in her true colors. She could not bear the good qualities of this pretty girl, and the less because they made her own daughters appear the more odious. She employed her in the meanest work of the house. She scoured the dishes, tables, etc., and cleaned madam's chamber, and those of misses, her daughters. She slept in a sorry garret, on a wretched straw bed, while her sisters slept in fine rooms, with floors all inlaid, on beds of the very newest fashion, and where they had looking glasses so large that they could see themselves at their full length from head to foot.
The poor girl bore it all patiently, and dared not tell her father, who would have scolded her; for his wife governed him entirely. When she had done her work, she used to go to the chimney corner, and sit down there in the cinders and ashes, which caused her to be called Cinderwench. Only the younger sister, who was not so rude and uncivil as the older one, called her Cinderella. However, Cinderella, notwithstanding her coarse apparel, was a hundred times more beautiful than her sisters, although they were always dressed very richly.
It happened that the king's son gave a ball, and invited all persons of fashion to it. Our young misses were also invited, for they cut a very grand figure among those of quality. They were mightily delighted at this invitation, and wonderfully busy in selecting the gowns, petticoats, and hair dressing that would best become them. This was a new difficulty for Cinderella; for it was she who ironed her sister's linen and pleated their ruffles. They talked all day long of nothing but how they should be dressed.
"For my part," said the eldest, "I will wear my red velvet suit with French trimming."
"And I," said the youngest, "shall have my usual petticoat; but then, to make amends for that, I will put on my gold-flowered cloak, and my diamond stomacher, which is far from being the most ordinary one in the world."
They sent for the best hairdresser they could get to make up their headpieces and adjust their hairdos, and they had their red brushes and patches from Mademoiselle de la Poche.
They also consulted Cinderella in all these matters, for she had excellent ideas, and her advice was always good. Indeed, she even offered her services to fix their hair, which they very willingly accepted. As she was doing this, they said to her, "Cinderella, would you not like to go to the ball?"
"Alas!" said she, "you only jeer me; it is not for such as I am to go to such a place."
"You are quite right," they replied. "It would make the people laugh to see a Cinderwench at a ball."
Anyone but Cinderella would have fixed their hair awry, but she was very good, and dressed them perfectly well. They were so excited that they hadn't eaten a thing for almost two days. Then they broke more than a dozen laces trying to have themselves laced up tightly enough to give them a fine slender shape. They were continually in front of their looking glass. At last the happy day came. They went to court, and Cinderella followed them with her eyes as long as she could. When she lost sight of them, she started to cry.
Her godmother, who saw her all in tears, asked her what was the matter.
"I wish I could. I wish I could." She was not able to speak the rest, being interrupted by her tears and sobbing.
This godmother of hers, who was a fairy, said to her, "You wish that you could go to the ball; is it not so?"
"Yes," cried Cinderella, with a great sigh.
"Well," said her godmother, "be but a good girl, and I will contrive that you shall go." Then she took her into her chamber, and said to her, "Run into the garden, and bring me a pumpkin."
Cinderella went immediately to gather the finest she could get, and brought it to her godmother, not being able to imagine how this pumpkin could help her go to the ball. Her godmother scooped out all the inside of it, leaving nothing but the rind. Having done this, she struck the pumpkin with her wand, and it was instantly turned into a fine coach, gilded all over with gold.
She then went to look into her mousetrap, where she found six mice, all alive, and ordered Cinderella to lift up a little the trapdoor. She gave each mouse, as it went out, a little tap with her wand, and the mouse was that moment turned into a fine horse, which altogether made a very fine set of six horses of a beautiful mouse colored dapple gray.
Being at a loss for a coachman, Cinderella said, "I will go and see if there is not a rat in the rat trap that we can turn into a coachman."
"You are right," replied her godmother, "Go and look."
Cinderella brought the trap to her, and in it there were three huge rats. The fairy chose the one which had the largest beard, touched him with her wand, and turned him into a fat, jolly coachman, who had the smartest whiskers that eyes ever beheld.
After that, she said to her, "Go again into the garden, and you will find six lizards behind the watering pot. Bring them to me."
She had no sooner done so but her godmother turned them into six footmen, who skipped up immediately behind the coach, with their liveries all bedaubed with gold and silver, and clung as close behind each other as if they had done nothing else their whole lives. The fairy then said to Cinderella, "Well, you see here an equipage fit to go to the ball with; are you not pleased with it?"
"Oh, yes," she cried; "but must I go in these nasty rags?"
Her godmother then touched her with her wand, and, at the same instant, her clothes turned into cloth of gold and silver, all beset with jewels. This done, she gave her a pair of glass slippers, the prettiest in the whole world. Being thus decked out, she got up into her coach; but her godmother, above all things, commanded her not to stay past midnight, telling her, at the same time, that if she stayed one moment longer, the coach would be a pumpkin again, her horses mice, her coachman a rat, her footmen lizards, and that her clothes would become just as they were before.
She promised her godmother to leave the ball before midnight; and then drove away, scarcely able to contain herself for joy. The king's son, who was told that a great princess, whom nobody knew, had arrived, ran out to receive her. He gave her his hand as she alighted from the coach, and led her into the hall, among all the company. There was immediately a profound silence. Everyone stopped dancing, and the violins ceased to play, so entranced was everyone with the singular beauties of the unknown newcomer.
Nothing was then heard but a confused noise of, "How beautiful she is! How beautiful she is!"
The king himself, old as he was, could not help watching her, and telling the queen softly that it was a long time since he had seen so beautiful and lovely a creature.
All the ladies were busied in considering her clothes and headdress, hoping to have some made next day after the same pattern, provided they could find such fine materials and as able hands to make them.
The king's son led her to the most honorable seat, and afterwards took her out to dance with him. She danced so very gracefully that they all more and more admired her. A fine meal was served up, but the young prince ate not a morsel, so intently was he busied in gazing on her.
She went and sat down by her sisters, showing them a thousand civilities, giving them part of the oranges and citrons which the prince had presented her with, which very much surprised them, for they did not know her. While Cinderella was thus amusing her sisters, she heard the clock strike eleven and three-quarters, whereupon she immediately made a courtesy to the company and hurried away as fast as she could.
Arriving home, she ran to seek out her godmother, and, after having thanked her, she said she could not but heartily wish she might go to the ball the next day as well, because the king's son had invited her.
As she was eagerly telling her godmother everything that had happened at the ball, her two sisters knocked at the door, which Cinderella ran and opened.
"You stayed such a long time!" she cried, gaping, rubbing her eyes and stretching herself as if she had been sleeping; she had not, however, had any manner of inclination to sleep while they were away from home.
"If you had been at the ball," said one of her sisters, "you would not have been tired with it. The finest princess was there, the most beautiful that mortal eyes have ever seen. She showed us a thousand civilities, and gave us oranges and citrons."
Cinderella seemed very indifferent in the matter. Indeed, she asked them the name of that princess; but they told her they did not know it, and that the king's son was very uneasy on her account and would give all the world to know who she was. At this Cinderella, smiling, replied, "She must, then, be very beautiful indeed; how happy you have been! Could not I see her? Ah, dear Charlotte, do lend me your yellow dress which you wear every day."
"Yes, to be sure!" cried Charlotte; "lend my clothes to such a dirty Cinderwench as you are! I should be such a fool."
Cinderella, indeed, well expected such an answer, and was very glad of the refusal; for she would have been sadly put to it, if her sister had lent her what she asked for jestingly.
The next day the two sisters were at the ball, and so was Cinderella, but dressed even more magnificently than before. The king's son was always by her, and never ceased his compliments and kind speeches to her. All this was so far from being tiresome to her, and, indeed, she quite forgot what her godmother had told her. She thought that it was no later than eleven when she counted the clock striking twelve. She jumped up and fled, as nimble as a deer. The prince followed, but could not overtake her. She left behind one of her glass slippers, which the prince picked up most carefully. She reached home, but quite out of breath, and in her nasty old clothes, having nothing left of all her finery but one of the little slippers, the mate to the one that she had dropped.
The guards at the palace gate were asked if they had not seen a princess go out. They replied that they had seen nobody leave but a young girl, very shabbily dressed, and who had more the air of a poor country wench than a gentlewoman.
When the two sisters returned from the ball Cinderella asked them if they had been well entertained, and if the fine lady had been there.
They told her, yes, but that she hurried away immediately when it struck twelve, and with so much haste that she dropped one of her little glass slippers, the prettiest in the world, which the king's son had picked up; that he had done nothing but look at her all the time at the ball, and that most certainly he was very much in love with the beautiful person who owned the glass slipper.
What they said was very true; for a few days later, the king's son had it proclaimed, by sound of trumpet, that he would marry her whose foot this slipper would just fit. They began to try it on the princesses, then the duchesses and all the court, but in vain; it was brought to the two sisters, who did all they possibly could to force their foot into the slipper, but they did not succeed.
Cinderella, who saw all this, and knew that it was her slipper, said to them, laughing, "Let me see if it will not fit me."
Her sisters burst out laughing, and began to banter with her. The gentleman who was sent to try the slipper looked earnestly at Cinderella, and, finding her very handsome, said that it was only just that she should try as well, and that he had orders to let everyone try.
He had Cinderella sit down, and, putting the slipper to her foot, he found that it went on very easily, fitting her as if it had been made of wax. Her two sisters were greatly astonished, but then even more so, when Cinderella pulled out of her pocket the other slipper, and put it on her other foot. Then in came her godmother and touched her wand to Cinderella's clothes, making them richer and more magnificent than any of those she had worn before.
And now her two sisters found her to be that fine, beautiful lady whom they had seen at the ball. They threw themselves at her feet to beg pardon for all the ill treatment they had made her undergo. Cinderella took them up, and, as she embraced them, said that she forgave them with all her heart, and wanted them always to love her.
She was taken to the young prince, dressed as she was. He thought she was more charming than before, and, a few days after, married her. Cinderella, who was no less good than beautiful, gave her two sisters lodgings in the palace, and that very same day matched them with two great lords of the court.
Diposting oleh Myy Bloggggss di 02.36 0 komentar
Label: Story
